Table of Contents
Selama lebih dari satu dekade, Node.js adalah raja tak tergoyahkan di dunia JavaScript runtime. Ryan Dahl (pencipta Node) kemudian menciptakan Deno untuk memperbaiki “kesalahan desain” Node. Tapi di tahun 2023/2024, penantang baru muncul dan mencuri perhatian semua orang: Bun.
Apa itu Bun?
Bun adalah runtime JavaScript “all-in-one” yang ditulis dengan bahasa Zig. Bun bukan hanya runtime, tapi juga:
- Package manager (pengganti npm/yarn/pnpm)
- Bundler (pengganti Webpack/Vite)
- Test runner (pengganti Jest/Vitest)
Klaim utamanya? Kecepatan.
Bun menggunakan JavaScriptCore (engine Safari), berbeda dengan Node dan Deno yang menggunakan V8 (engine Chrome). Hasilnya? Startup time yang instan dan performa eksekusi yang seringkali 2-3x lebih cepat dari Node.
Node.js Melawan Balik
Merasa terancam, tim Node.js tidak tinggal diam. Sejak 2023, Node.js merilis update agresif:
- Menambahkan Native Fetch API (tidak perlu lagi
node-fetch). - Menambahkan fitur Watch Mode (
node --watch). - Meningkatkan performa secara signifikan.
- Dukungan eksperimental untuk TypeScript (tanpa
tsxatauts-node).
Deno 2.0
Deno juga terus berinovasi. Fokus awalnya pada keamanan (secure by default) dan dukungan TypeScript “out of the box”. Di versi terbarunya, Deno mempermudah kompatibilitas dengan package npm, yang merupakan hambatan terbesar adopsi Deno di masa-masa awal.
Mana yang Harus Dipilih?
- Node.js: Pilihan paling aman. Ekosistem paling stabil, dokumentasi melimpah, dan dipakai di hampir semua perusahaan besar.
- Bun: Sangat menarik untuk proyek baru atau tools CLI yang butuh kecepatan. Package manager-nya (
bun install) adalah yang tercepat saat ini. Namun, kompatibilitas dengan beberapa library Node lama masih kadang bermasalah. - Deno: Pilihan tepat jika kamu menginginkan keamanan dan pengalaman TypeScript yang modern tanpa konfigurasi
tsconfigyang rumit.
Kompetisi ini sehat. Berkat Bun, Node.js jadi lebih cepat. Berkat Deno, standar keamanan meningkat. Pemenangnya? Kita, para developer.