Table of Contents
Dunia pemrograman diguncang pada Maret 2024 ketika Cognition Labs memperkenalkan Devin, yang mereka klaim sebagai “AI Software Engineer otonom pertama di dunia”. Video demonya menyebar viral, menunjukkan kemampuan yang sebelumnya dianggap mustahil bagi AI.
Apa yang Bisa Dilakukan Devin?
Berbeda dengan GitHub Copilot atau ChatGPT yang hanya membantu melengkapi kode atau menjawab pertanyaan snippet, Devin bisa:
- Merencanakan & Mengeksekusi: Diberikan tugas kompleks, Devin bisa memecahnya menjadi langkah-langkah logis.
- Menggunakan Tools: Devin memiliki terminal, browser, dan code editor sendiri.
- Debugging Mandiri: Jika menemui error, Devin bisa membaca log, mencari solusi di internet, dan memperbaiki kodenya sendiri.
- End-to-End Project: Dari ide hingga deployment, Devin bisa membuat website atau aplikasi sederhana secara mandiri.
Dalam benchmark SWE-bench (standar untuk menguji kemampuan AI menyelesaikan masalah software engineering nyata dari GitHub), Devin memecahkan rekor dengan mampu menyelesaikan sekitar 13.86% masalah tanpa bantuan manusia. Angka ini jauh melampaui model AI sebelumnya yang hanya di kisaran 1-4%.
Reaksi Komunitas Developer
Reaksinya beragam, mulai dari kagum hingga panik.
- Optimis: Devin adalah alat yang akan menghilangkan pekerjaan membosankan (boilerplate, bug fixing), membiarkan manusia fokus pada arsitektur dan logika bisnis.
- Pesimis: Ini adalah awal dari akhir karir entry-level programmer.
Realita
Meskipun demonya impresif, Devin belum sempurna. Ia masih bisa “berhalusinasi” atau mengambil pendekatan yang tidak efisien. Namun, Devin membuktikan bahwa AI agen (agentic AI) adalah masa depan. Kita tidak lagi hanya chatting dengan AI, tapi memberi mereka tugas untuk diselesaikan.
Apakah programmer akan punah? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi definisi “programmer” pasti akan berubah drastis. Skill utamanya bukan lagi mengetik sintaks, tapi managing AI.